Kerangkeng bambu
Dihadapkan pada gelora tak berujung berambing
Apakah aku harus berenang pada air mataku sendiri?
atau bahkan aku harus terkokoh dengan badai yg kian hari tak kunjung ramah
atau bahkan aku harus terkokoh dengan badai yg kian hari tak kunjung ramah
Aku sungguh ingin keluar dari kerangkeng bambu teramat pilu
Hingga tak mampu sadarkan diri sendiri yg terperangkap keluh
Tak lagi tau mencairkan hati yg membatu akibat tersakiti
Separah itukah roman ini sampai mata sayu menembus senja
Mungkin pikiran sejalan namun hati sudah
pasti berlalu
Kerapuhan terangkai titik demi titik tepat direlungku
Harus mampu tegak tapi aku lemah
Pedih memang pedih dan menusuk perasaan terdalam
Inilah aku, tak kan menampik jika memang harus hilang
Tak ada yg abadi dan aku pergi
Tiareski Ayu, Oktober 11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar