
Teh hijau adalah teh yang dibuat dari daun tanaman teh (Camellia
sinensis) yang dipetik dan mengalami proses pemanasan untuk mencegah
oksidasi, atau bisa juga berarti minuman yang dihasilkan dari menyeduh
daun teh tersebut.
Teh termasuk minuman paling banyak dikonsumsi masyarakat. Di Indonesia,
semua kalangan, dari bawah hingga atas, tak ada yang tak mengenal
minuman khas Asia ini. Di Bumi Parahyangan, Jawa Barat, umpamanya,
minuman teh menjadi minuman wajib untuk menjamu tamu. Di rumah makan
atau warung Sunda pun setiap tamu selalu disodori minuman teh tawar
lebih dulu sebelum makanan atau minuman yang dipesan disajikan. Di
warteg juga sama, ngak `seru` kalo ngak ada teh angetnya, kadang kalau
minumnya sampai nambah…. Tapi di Indonesia lebih banyak yg mengkonsumsi
teh hitam dibanding teh hijau…. nah dengan informasi ini semoga menjadi
lebih banyak yg beralih ke teh hijau…
Teh hijau merupakan minuman populer di daratan Tiongkok, Taiwan,
Hongkong, Jepang dan Asia Tenggara, dan saat ini sudah semakin dikenal
juga di negara Barat yang dulunya merupakan peminum teh hitam.
Bahkan di Jepang dikenal adanya upacara minum teh. Rangkaian upacara ini
diawali dengan pembersihan teko penyajian, memasak air, menuang teh
hijau ke dalam teko tadi, menuang air panas ke dalamnya, mengaduknya
sampai rata dan berbuih, serta kemudian menyajikannya pada tamu dengan
tata cara khas Jepang. Mesti upacara ini kelihatannya sederhana, tapi
ada suatu getaran ritual dilibatkan, yang membuat upacara minum teh ini
suatu seni yang bertahan berabad-abad hingga sekarang.
Selain nilai-nilai kultural dan ritual tadi, teh hijau banyak memberi manfaat buat kesehatan :
Menghambat pembentukan kanker.
Mencegah penyakit jantung dan stroke.
Menstimulir sistem sirkulasi, memperkuat pembuluh darah, dan menurunkan kolesterol dalam darah.
Meningkatkan jumlah sel darah putih yang bertanggung jawab melawan infeksi.
Mencegah serangan influenza.
Menurunkan stress
Dalam saluran pencernaan, teh juga membantu melawan keracunan makanan
dan penyakit macam kolera, tipes dan desentri. Di dalam buku Shennong
Bencao, Sennong mencatat 72 jenis tanaman beracun yang dapat
dinetralisir oleh teh.
Teh dapat menurunkan angka serangan diare.
Membantu menghambat infeksi tenggorokan.
Memperbaiki konsentrasi, ketajaman perhatian, dan kemampuan memecahkan masalah.
Bisa pula digunakan sebagai obat luar untuk beberapa penyakit. Di Cina,
umpamanya, teh hijau digunakan sebagai obat rumah untuk menyembuhkan
luka atau mencegah penyakit kulit dan penyakit kaki karena kutu air.
Sebagai bahan-bahan kosmetik. Di antaranya, untuk lotion; cream
antiseptik; produk-produk perawatan rambut macam shampo atau
conditioner; perawatan mulut seperti pasta gigi, mouthwash, dan
pelindung bibir; deodoran; produk pembersih macam sabun atau pembersih
kulit; perawatan tubuh seperti hand & body lotion; perawatan kaki;
dan produk-produk pelindung tubuh dari sengatan matahari atau yang
diperlukan selama perjalanan.
Memperkuat gigi, juga baik untuk melawan osteoporosis.
Membantu menurunkan resiko penyakit mental ketika seseorang beranjak tua.
Beragam manfaat teh tadi tentu tak lepas dari keberadaan senyawa-senyawa
dan sifat-sifat yang ada pada daun teh. Setidaknya terdapat 450 senyawa
organik dan lebih dari satu senyawa anorganik bisa ditemukan dalam daun
teh. Menurut Tea Board India, dalam secangkir teh terkandung energi
sekitar 4 kkal, di samping flour, mangan, vitamin B kompleks, asam
nikotinat, dan asam pantotenat.
Hasil penelitian membuktikan teh mengandung senyawa utama yang disebut
polyphenol, sejumlah vitamin (niacin atau vitamin B kompleks seperti
vitamin B1 dan B2; serta vitamin C, E, dan K), dan mineral (a.l. mangan,
potasium, dan fluor). Kandungan vitamin B2 teh kira-kira 10 kali lebih
besar dibandingkan dengan yang terdapat pada sereal dan sayuran. Vitamin
C-nya pun lebih tinggi dari buah apel, tomat, atau jeruk. Dengan kata
lain, dua cangkir teh hijau memiliki vitamin C sama banyaknya dengan
segelas besar jus jeruk.
Di dalam teh juga terkandung kafein. Pada teh hijau juga ditemukan
adanya catechin, r-amino butyric acid, flavonoid, polisakarida, dan
fluoride. Tak ketinggalan, minyak esensial yang memberi teh aroma khas
dan keharuman.
Teh hijau (ryokucha) adalah teh yang sangat umum di Jepang sehingga bila
disebut “teh” (ocha) maka kemungkinan besar yang dimaksudkan adalah teh
hijau, dan baru disebut sebagai teh Jepang (nihoncha) kalau memang
tersedia pilihan teh yang lain. Teh biasanya dijual dengan harga yang
bergantung pada kualitas dan bagian dari tanaman yang dibuat teh.
Jenis-jenis teh hijau yang umum:
Gyokuro
Teh terpilih dari daun teh kelas atas yang disebut Tencha. Teh dinamakan
Gyokuro karena warna hijau pucat yang keluar dari daun teh. Daun
dilindungi dari terpaan sinar matahari sehingga mempunyai aroma yang
sangat harum.
Matcha
Teh hijau berkualitas tinggi yang digiling menjadi bubuk teh dan dipakai
untuk upacara minum teh. Matcha mempunyai aroma yang harum sehingga
digunakan sebagai perasa untuk es krim rasa teh hijau, berbagai jenis
kue tradisional Jepang (wagashi), berbagai permen dan coklat.
Sencha
Teh hijau yang biasa diminum sehari-hari, dibuat dari daun yang dibiarkan terpapar sinar matahari.
Genmaicha
Teh jenis bancha dengan campuran butiran beras yang belum disosoh
(genmai) yang dibuat menjadi berondong. Teh mempunyai aroma wangi
butiran beras yang setengah gosong.
Kabusecha
Teh jenis sencha yang daunnya dilindungi untuk beberapa lama dari
terpaan sinar matahari sebelum dipanen. Aroma teh kabusecha sedikit
lebih lembut dibandingkan dengan teh sencha.
Bancha
Teh kasar yang dibuat dari panenan yang kedua kali antara musim panas
dan musim gugur. Daun teh untuk teh bancha biasanya lebih besar dari
daun teh sencha dan aromanya tidak begitu harum.
Hojicha
Teh yang digongseng di atas penggorengan atau di dalam oven.
Kukicha
Teh berkualitas rendah dari daun teh bercampur tangkai daun teh
Proses Produksi Teh Hijau
1. Proses Pelayuan
Setelah penerimaan pucuk dari kebun, daun teh ditebar & diaduk-aduk
untuk mengurangi kandungan air yang terbawa pada daun. Setelah itu daun
teh dilayukan dengan melewatkan daun tersebut pada silinder panas ±
sekitar 5 menit (sistim panning) atau dilewatkan beberapa saat pada uap
panas bertekanan tinggi (sistim steaming), proses pelayuan ini bertujuan
untuk mematikan aktivitas enzim sehingga akan menghambat timbulnya
proses fermentasi.
Menurunkan kadar air menjadi sekitar 60 – 70 %.
2. Proses Pendinginan
Bertujuan untuk mendinginkan daun setelah melalui proses pelayuan.
3. Proses Penggulungan daun
Menggunakan mesin Jackson, bertujuan untuk memecah sel-sel daun sehingga
teh yang dihasilkan akan mempunyai rasa yang lebih sepet. Proses ini
hampir sama dengan proses penggilingan pada proses pembuatan teh hitam,
tetapi untuk proses pembuatan teh hijau daun yang dihasilkan sedapat
mungkin tidak remuk / hanya tergulung, dan mempunyai rasa yang lebih
sepet. Proses penggulungan berkisar antara 15 – 30 menit.
4. Proses Pengeringan
Proses pengeringan yang pertama dilakukan adalah dengan menggunakan ECP
drier, kemudian setelah itu langsung dilanjutkan dengan pengeringan
menggunakan rotary drier. Proses pengeringan pertama akan menurunkan
kadar air menjadi 30 – 35 %, dan akanmemperpekat cairan sel. Proses ini
dlakukan pada suhu sekitar 110° – 135° C selama ± 30 menit. Proses
pengeringan kedua akan memperbaiki bentuk gulungan daun, suhu yang
dipergunakan berkisar antara 70° – 95° C dengan waktu sekitar 60 – 90
menit. Produk teh hijau yang dihasilkan mempunyai kadar air 4 – 6 %.
5. Proses sortasi
Proses ini bertujuan untuk mendapatkan teh hijau dengan berbagai kualitas mutu :
a. Peko (daun pucuk).
b. Jikeng (daun bawah / tua).
c. bubuk / kempring (remukan daun).
d. tulang
Sumber : buku pengolahan bahan pangan segar, harian pikiran rakyat, sinar harapan, situs wikipedia, republika, kompas
Post by : http://slimming-greentea.blogspot.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar